Kamis, 01 Januari 2009

Potret Sosial Bangsa Kita

Perubahan sosial budaya adalah sebuah gejala berubahnya struktur sosial dan pola budaya dalam suatu masyarakat
Perubahan sosial budaya merupakan gejala umum yang terjadi sepanjang masa dalam setiap masyarakat

Perubahan itu terjadi sesuai dengan hakikat dan sifat dasar manusia yang selalu ingin mengadakan perubahan...

Namun apa jadinya jika perubahan itu bukan menjadi lebih baik??

Kampung kumuh Kebalen:
suasana perkampungan kumuh di pasar Kebalen, Malang. jarak yang begitu dekat antara rumah dengan rel kereta dapat membahayakan jiwa warga yang melintas.









Kakak-beradik:

potret pengemis kakak-beradik Lina dan Alila yang berada di trafficlight Jl. Veteran Malang. Tidak ada hak untuk mendapat pendidikan yang layak untuk mereka.









Mengaji:
Mufida, (9) sedang belajar membaca Al-Qur'an di Madrasah Diniyah Al-Furqon Tegal Gondo, Malang.













Menggoreng kerupuk:

Siswanto, (23) sedang menggoreng kerupuk di sebelah lintasan rel kereta kawasan Kebalen Malang. Ia menjual kerupuk sebagai mata pencaharian.






Hasil tangkapan:
Nelayan di pantai Prigi kabupaten Trenggalek sedang membongkar hasil tangkapannya selama beberapa malam. ikan yang diusung ini berjenis tongkol




Aku Punk:
Anak punk yang naik gerbong kereta jurusan Blitar-Malang.











Garis hidupku:
pengemis anak yang tertidur di jembatan penyeberangan Blimbing, Malang.








Potret diatas hanya sebagian kecil dari rangkaian cerita bangsa ini. Mereka adalah nyawa-nyawa yang seharusnya mendapatkan hak mereka sebagai bangsa yang Merdeka dan dihargai/(ellen).

Ramainya Malam di Pasar Minggu Yosowilangun


Naskah dan Foto : Ellen M. Yasak

Sekilas tidak ada yang istimewa dengan kerumunan orang-orang pada malam hari di pasar kecamatan Yosowilangun Lumajang ini. Pasalnya, pasar ini ramai di pagi sampai siang hari. Namun jika waktu telah berganti malam, suasana menjadi sebaliknya. Hanya pada hari Sabtu dan Senin, suasana malamnya menjadi ramai. Dimulai pukul 5 sore sampai habisnya pengunjung sekitar jam 9 malam. Pada hari-hari tersebut banyak orang melakukan aktifitas jual beli burung dara.

Orang-orang setempat menamakannya Pasar Minggu atau Pasar Doro (Pasar burung Dara). Yang unik dari pasar ini selain buka pada malam hari, adalah penjual juga membeli burung-burung yang dibawa pengunjung. Saat tiba disana pukul 18.30 WIB suasana sudah ramai. Riuh pembeli yang menawar serta suara khas burung dara menyambut. Suasana pasar yang gelap dan hanya diterangi beberapa pasang lampu neon dan lampu minyak menambah menarik suasana pasar ini. Saya bertemu orang yang biasa disapa abah (bapak) oleh orang-orang sekitar, namun nama aslinya Syafa’. Ia penjual dara yang sudah lama. Saat ditanya kapan dimulainya pasar Doro ini, ia mengaku tak banyak mengerti. “Sejak jaman mbah saya pasar ini sudah ada” ungkapnya dengan logat bicara kental Madura.

Burung dara adalah dagangan utama. Dari yang Ngaret (sepasang), Andokan (aduan), Geta’an (peliharaan) dan Jambul dapat ditemui di sini. Harganya berkisar antara 3000-300.000 rupiah.

Pengunjung pasar ini tak hanya datang dari warga sekitar Yosowilangun saja, namun juga dari desa tetangga. Mulai anak-anak sampai orang dewasa, dari penghobi sampai pengunjung biasa bercampur menjadi satu.

Meneliti setiap bagian tubuh burung merupakan kewajiban bagi mereka yang menginginkan burung dara terbaik. Sebelum berakhirnya pasar, penjual biasanya bersantai, berbicara tentang dagangannya dan mencari burung dara baru untuk dijual hari berikutnya.





























































Selasa, 23 September 2008

dari dulu biaya pendidikan Indonesia sudah mahal!

Ternyata biaya pendidikan Indonesia memang mahal sejak masa penjajahan kolonial…

Berikut tulisan Nakoela Soenarta Guru Besar Ilmu Teknik Mesin di FTUI, ISTN, dan FTUP yang saya ambil dari sebuah situs. Semoga bisa menjadi awal kita untuk turut serta memikirkan kelanjutan bangsa ini!



BIAYA pendidikan akademis tidak pernah murah. Yang membuat biaya pendidikan terlihat tinggi karena dibandingkan dengan penghasilan rata-rata rakyat Indonesia.

Di zaman kolonial Belanda, pemerintah kolonial sebenarnya tidak berniat mendirikan universitas. Mereka mendirikan hogeschool agar lulusan dapat membantu mission mereka menjajah rakyat Indonesia dengan mudah karena dapat memanfaatkan tenaga inlanders untuk diangkat sebagai pembantu utamanya.


Meski demikian, pemerintah kolonial akhirnya membuat sekolah juga. Pada mulanya, pemerintah kolonial mendirikan sekolah Nederlands Indische Artsen School di Surabaya. Lalu, didirikan School tot Opleiding voor Indische Artsen di Batavia. Di beberapa kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Yogyakarta didirikan Algemene Middelbare School (AMS), Middelbare Opleiding School voor Indlandse Amstenaren di Magelang, Middelbare Opleiding School voor Inlandse Bestuur Ambtenaren di Bandung, Middelbare Landbouw School di Bogor dan Ungaran. Juga Veeartsen School di Bogor.


Sekolah-sekolah itu adalah setara dengan jenjang sekolah menengah. Setelah itu, pemerintah kolonial baru mendirikan Rechts Hogeschool (RH) dan Geneeskundige Hogeschool di Jakarta. Di Bandung, pemerintah kolonial mendirikan Technische Hogeschool (TH). Kebanyakan dosen TH adalah orang Belanda.


Pada zaman kolonial (kalau tidak salah ingat), hanya ada seorang pribumi yang menjadi guru besar, yaitu Prof Husein Djajadiningrat, yang kemudian menjabat Direktur Departement Van Onderwijs en Eredienst, disusul kemudian oleh Prof Dr Mr Supomo yang mengajar di RH. Sementara universitasnya baru didirikan setelah Perang Dunia II usai dan pemerintah kolonial mau menjajah kembali Indonesia.


BAGI kaum inlanders atau pribumi, mereka agak sulit untuk masuk ke sekolah-sekolah tinggi itu. Bahkan, ketika almarhum Prof Roosseno lulus TH, jumlah lulusan yang bukan orang Belanda hanya tiga orang, yaitu Roosseno dan dua orang lagi vreemde oosterling alias keturunan Tionghoa. Bila demikian, lantas berapa orang yang lulus bersama almarhum Ir Soekarno (presiden pertama RI) dan Ir Putuhena? Di zaman pendudukan Jepang, pernah dicari 100 orang insinyur yang dibutuhkan. Padahal saat itu belum ada 90 orang insinyur lulusan TH Bandung.


Biaya kuliah untuk satu tahun di salah satu sekolah tinggi itu besarnya fl (gulden) 300. Saat itu, harga satu kilogram (kg) beras sama dengan 0,025 gulden. Maka, besar uang kuliah sama dengan 12.000 kg beras. Bila ukuran dan perbandingan itu diterapkan sebagai biaya kuliah di universitas sekarang, sedangkan harga beras sekarang rata-rata Rp 5000 per kg, maka untuk kuliah di universitas biayanya sebesar Rp 60 juta per mahasiswa per tahun.

Biaya di MULO, setingkat sekolah lanjutan tingkat pertama, adalah sebesar 5,60 gulden per siswa per bulan, setara dengan 224 kg beras. Bila dihitung dengan harga beras sekarang, akan menjadi Rp 1.120.000 per siswa per bulan. Maka, saat itu banyak rekan sekolah saya masuk ke Ambachtschool atau Technische School, karena biayanya agak murah sedikit. Berbekal keterampilan yang diperoleh di Ambachtschool atau Technische School, siswa bisa langsung bekerja setelah lulus.


Meski biaya sekolah mahal, bagi siswa yang berasal dari keluarga tidak mampu secara ekonomis, tetapi mempunyai bakat dan nilai rapor bagus, kepala sekolah dapat mengajukan pembebasan biaya uang sekolah ke Departement O & E. Biasanya, bila pengajuan pembebasan biaya diajukan oleh Direktur MULO atau AMS, Departemen O & E akan mengabulkan, bahkan amat mungkin siswa bersangkutan juga diberi beasiswa untuk hidup.

Dari pengalaman pribadi, orangtua saya berhenghasilan 100 gulden sebulan. Dengan penghasilan itu, hampir mustahil orangtua saya bisa mengirimkan keempat anaknya menikmati pendidikan tinggi. Meski demikian, dengan kerja keras, saya dan semua adik saya dapat menikmati pendidikan tinggi. Bahkan, saya dan beberapa ratus teman pada tahun awal kemerdekaan, ketika Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) masih miskin, dapat menikmati beasiswa.


PADA tahun 1950, NKRI baru saja menyelesaikan perang kemerdekaan melawan penjajah Belanda. Toh Pemerintah NKRI yang masih miskin mampu memprogramkan pendidikan bagi kader bangsanya. Ratusan pemuda Indonesia dibiayai Pemerintah NKRI untuk meneruskan pendidikannya di perguruan tinggi, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Dewasa ini NKRI sudah begitu kaya, mengapa beasiswa bagi para kader bangsa tidak lancar? Padahal NKRI ingin mencerdaskan kehidupan bangsa, sedangkan penghasilan rakyatnya amat rendah. Kepada mereka yang rajin dan cerdas, sudah seharusnya pemerintah memberikan beasiswa karena pendidikan akademis memang mahal.

Seyogianya industri atau instansi pemerintah menyerahkan tugas penelitiannya kepada universitas sehingga biaya penelitian yang harus dipikul perguruan tinggi dapat dibantu atau bahkan dipikul industri dan instansi pemerintah. Dengan demikian, biaya bagi mahasiswa dapat dikurangi.

Juga cara perguruan tinggi melakukan pembibitan, jangan langsung diambil dari yang fresh graduate. Lebih-lebih kalau dosen muda itu lulusan perguruan tinggi itu karena akan timbul inbreeding bila mereka tidak disekolahkan ke tingkat lanjutan atau dimagangkan di profesi tertentu. Dosen di perguruan tinggi membutuhkan pengalaman kerja di luar perguruan tinggi, di mana mereka dapat menerapkan ilmu dan pengetahuan yang dikuasai. Maka, di luar negeri banyak profesor yang diambil dari industri atau instansi. Mereka sudah pernah menguji kemampuannya untuk berkompetisi dengan alumni dari perguruan tinggi lain. Setelah diketahui kemampuannya, mereka dipanggil untuk menjadi profesor di perguruan tertentu.


Profesor yang mengajar di universitas seyogianya mampu mengembangkan ilmunya melalui riset yang dilakukan para kandidat doktor yang dibimbingnya. Bila ada profesor yang tidak membimbing doktor, maka risetnya sudah berhenti atau ilmunya tidak berkembang. Mereka yang tidak mampu mempromotori doktor jangan diangkat sebagai profesor, cukup lektor kepala saja. Apakah tugas seorang profesor hanya mengajar dari buku yang ditulis rekannya saja?

Seorang profesor harus mau mengembangkan ilmunya dengan cara mempromotori kandidat doktor bidang ilmunya. Bila tidak demikian, perkembangan perguruan tinggi akan menjadi seperti sekolah menengah atas plus. Pada umumnya, perguruan tinggi mengembangkan ilmu yang dikuasai profesornya, maka biaya untuk belajar di perguruan tinggi selalu mahal. Dari perguruan tinggi inilah timbul inovasi dan kreasi yang selanjutnya dapat dimanfaatkan masyarakat untuk mempertahankan hidupnya aman dan nyaman.


Perguruan tinggi yang satu akan bersaing dengan perguruan tinggi lainnya, terutama dalam kemajuan ilmu dari hasil risetnya. Mengingat biaya penelitian tidak murah, untuk dapat mengikuti kuliah di perguruan tinggi dibutuhkan biaya tidak sedikit. Bila hasil riset dapat langsung diaplikasikan dan dapat dijual ke industri atau instansi terkait, hasil ini secara kumulatif dapat digunakan membiayai riset berikutnya. Jadi, hasil riset dapat menumbuhkan multiplier effect.


BIAYA mengikuti pendidikan di perguruan tinggi yang mahal bukan hanya terjadi di Indonesia. Di negara mana pun tetap tinggi dan penghasilan para profesornya pun amat memadai. Dengan demikian, tidak ada profesor yang bekerja di tempat lain (nyambi), kecuali di bidang pendidikan.

Di luar negeri, bila ada seorang direktur industri atau instansi dipanggil untuk menjabat profesor di salah satu perguruan tinggi, jabatannya akan ditinggalkan. Karena, jabatan profesor di perguruan tinggi lebih terhormat dan penghasilannya meningkat. Keadaan ini berbeda dengan situasi perguruan tinggi di Indonesia. Bila seorang profesor diminta menjadi direktur salah satu industri atau instansi, jabatan di perguruan tingginya akan ditinggalkan. Karena, penghasilan profesor di perguruan tinggi Indonesia rendah.

Dengan biaya kuliah yang tinggi, perguruan tinggi diharapkan akan menghasilkan riset dan ilmu yang sepadan. Menurut saya, tidak semua pemuda harus kuliah di perguruan tinggi bila kemampuan berpikirnya tidak cukup baik. Lebih baik mereka masuk akademi yang mengajarkan ilmu terapan, profesi dan kompetensi yang amat dibutuhkan oleh masyarakat.


Sebetulnya, yang dibutuhkan masyarakat adalah ilmu dari seseorang yang dapat disumbangkan, bukan suatu gelar yang menempel pada namanya, tetapi tidak dapat dimanfaatkan masyarakat. Janganlah membanggakan diri dengan gelar yang dijualbelikan seperti pernah disinyalir Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Semoga masyarakat tidak silau melihat beberapa gelar yang dipajang di sekitar nama seseorang.

Kamis, 11 September 2008

PENERAPAN SIMBOL PADA MASYARAKAT TRADISIONAL DAN MODERN

Masyarakat adalah orang yang hidup bersama dan menghasilkan kebudayaan. Dengan demikian, tak ada masyarakat yang tidak mempunyai kebudayaan dan sebaliknya tak ada kebudayaan tanpa masyarakat sebagai wadah dan pendukungnya (Soekanto,2004:171). Jadi dapat dikatakan bahwa masyarakat dalam kondisi apapun, baik yang menganut sistim tertutup ataupun terbuka, pasti mempunyai budaya yang mendukung kehidupan dalam kesehariannya. Karena pada dasarnya budaya adalah buatan manusia. Kemudian Herskovits memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang super-organic, karena kebudayaan yang turun temurun dari generasi ke generasi hidup terus (Soekanto,2004:172). Dalam pengertian Herskovits ini jelas dapat dikatakan bahwa kebudayaan yang diturunkan dari generasi sebelumnya merupakan modal budaya untuk generasi penerus dalam ruang lingkup kebudyaan di masyarakat.

Dalam suatu masyarakat, modal budaya yang diturunkan kepada generasi penerus sangat kompleks. Itu karena mencakup pengetahuan, kepercayaan, moral, hukum, kemampuan-kemampuan, kebiasaan, dan berbagai hal lain yang mendukung terjadinya budaya. Tentu dalam suatu peradaban budaya, manusia mengenal tanda yang dituangkan dalam bentuk kebiasaan-kebiasaan masyarakat akan suatu hal yang dibalik kebiasaan itu mempunyai makna tersendiri. Dalam tradisi komunikasi, dikenal istilah semiotik atau studi tentang tanda. “Tradisi semiotik termasuk sebuah teori besar tentang bagaimana tanda datang untuk menunjukkan obyek, ide, keadaan, situasi, perasaan, dan kondisi diluar dirinya sendiri. Studi tentang simbol tidak hanya memberikan jalan dalam sebuah corak komunikasi tetapi juga mempunyai pengaruh yang kuat di hampir semua perspektif saat ini…” (Littlejohn,2005:35) termasuk dalam aspek budaya.

Simbol-simbol dalam masyarakat mencakup semua lapisan baik masyarakat desa maupun kota. Namun bisa dikatakan berbeda dalam penggunaannya. Dalam masyarakat desa, simbol bisa diartikan sebagai sarana penunjang komunikasi dan gaya hidup untuk masyarakat perkotaan (modern). Cara berfikir positifistik menyebabkan menyeruaknya kesadaran masyarakat modern yang terfragmentasikan dalam gaya hidup yang mekanistis (Narwaya,2006:51) jadi simbol yang ditunjukkan cenderung menunjukkan identitas perorangan atau kelompok. Mengingat tata hidup masyarakat modern berjalan dalam pola-pola yang dintingtif berjarak satu sama lain dengan tidak adanya kedalaman ‘makna’, yang berbanding terbalik dengan masyarakat desa yang masyarakatnya masih berupa kelompok sosial paguyuban (gemeinschaft).

Semua aspek kehidupan kebudayaan merupakan wacana untuk bisa dikembangkan dan dilestarikan. Seperti pendapat Teun A. van Dijk bahwa … wacana hanya hasil dari suatu praktik produksi yang harus juga diamati (dalam Eriyanto,2006:221) mengingat tidak semua wacana mengenai berbagai hal seperti tersebut diatas mempunyai nilai dan dampak positif untuk masyarakat.

Literatur

Eriyanto, 2001, Analisis Wacana Pengantar Analisis Teks Media, Yogyakarta, LKiS

Littlejohn, Sthephen W., 2005, Theories of Human Communication, USA, Wadsworth

Narwaya, St Tri Guntur, 2006, Matinya Ilmu Komunikasi, Yogyakarta, Resist Book

Soekanto, Soerjono, 2004, Sosiologi Suatu Pengantar, Jakarta, Raja Grafindo Persada

Pengetahuan dan kekuasaan saling terkait

satu sama lain.

Kita tidak bisa membayangkan

bahwa suatu ketika

‘pengetahuan’ tidak lagi bergantung pada ‘kekuasaan’

sebagaimana mustahil ‘pengetahuan’

tidak mengandung ‘kekuasaan’

(Michel Foucault)