| 8 month pregnancy |
Lama sudah aku tidak menulis…
Cerita ini akan aku awali pada Januari 2012 lalu.
Flash back, saat itu sesudah seminar
proposal aku dapat hadiah membahagiakan; yup! Aku hamil.
Selama menulis perbaikan proposal, penelitian,
sampai ujian tesis dedek ku bawa bersamaku. Rutinitas kerja, PP Solo-Jogjakarta
naik Prameks untuk bimbingan, dan PP Solo-Malang buat penelitian; semua ku
jabahi demi lulus S2 dan mengajak dedek dalam kandunganku ikhtiar kalau
bundanya masih sekolah. Harapanku saat itu, hanya ingin jadi ibu sekaligus mahasiswa
yang baik. Kontrol ke dokter tiap bulan gak pernah telat, minum vitamin rutin,
dan selalu makan makanan sehat. Jadi kalau mau ke Jogja gitu pasti heboh! Satu
tas bawa naskah bimbingan, buku, dan laptop; di tas lain ada ransum bumil (crackers,
buah, susu, dan roti). Udah gitu di kereta ada aja bapak-bapak atau mas-mas,
yang ‘tega’ liat bumil berdiri gelayutan ato duduk lesehan beralas koran. Sementara
mereka duduk manis sambil baca Koran (ough..!!). Semua itu aku jalani sampai
usia kandunganku 7 bulan.
Di bulan ke 8 usia kandungan, riset selesai dan acc
dosen pembimbing untuk segera ujian. Memang saat itu hampir semua teman-teman
seangkatan, pada hectic pingin cepet-cepet
ujian – it’s mean tidak ada uang SPP
yang perlu dibayarkan lagi ^_^. Aku ujian tesis – tanpa didampingi siapapun- tanggal
7 Agustus 2012, dan Alhamdulillah lulus dengan seabrek revisi. Saat itu
bertepatan dengan bulan puasa. Selang sehari berikutnya, my hubby jemput ke Jogja untuk pulang ke Malang dan mudik ke daerah
bareng-bareng.
Drama Jelang
Proses Persalinan
Hari raya idul fitri; hari kemenangan, bumil
serasa merdeka makan segala macem kue, ketupat sayur yang lauknya banyak
bersantan-santan. Akhirnya saat kembali ke Malang, aku terserang DIARE. Panik? Pasti.
Tapi my hubby menenangkanku dan buatin
teh pahit. Aku bolak-balik kamar mandi
lebih dari empat kali sehari, karena khawatir akhirnya kami cari referensi SPOG
yang recommended dan dokternya perempuan.
Soalnya selama ini aku periksa hamilnya kan di Solo. Akhirnya pilihan kami
jatuh ke dokter Prita di Permata Bunda – Soekarno Hatta Malang. Sama dr. Prita
aku diperiksa USG dan katanya air ketubanku sedikit dan sebagian keruh. Nah loh!
Apa gak tambah panik rasanya. Lalu dilakukan observasi, mulai dari CTG (memantau
gerak janin), makan yang mengandung elektrolit (degan, kacang hijau, dan madu),
sama dikasih antibiotik khusus bumil (harganya lumayan mahal -_-‘). Setelah beberapa
hari, kami diminta kontrol lagi ke Hermina – Jl. Tangkuban Perahu Malang; masih
dengan dr. Prita. Dilihat lagi, ternyata air ketubanku belum juga nambah. Khawatir
ada air ketuban yang merembes, dicek juga pakai kertas lakmus tapi hasilnya
juga nihil – tidak ada air ketuban keluar atau merembes. Akhirnya kami
disarankan untuk cek laboratorium, dengan USG Dopler.
Saat panik gitu, aku inget punya saudara yang
lagi PPDS Radiologi. Aku ceritakanlah kondisiku, dan dia langsung heran kok pakai
USG Dopler? Bukan USG 4D? aku jawab sesuai alasan dr. Prita menyarankan USG
jenis tersebut. Saudaraku itu masih bingung, dan akhirnya dia membuka diskusi
dengan teman-temannya yang juga sedang PPDS baik dari Radiologi ataupun Obgyn. Semua
menyatakan hal yang sama KENAPA USG DOPLER? Nah loh! Para calon dokter
spesialis aja bingung gimana aku?. Akhirnya dengan disperate, aku USG Dopler juga dan hasilnya saya smskan ke dr.
Prita. Saran beliau saat itu, lebih aman bagi ibu dan bayi kalau secepatnya SC
(Sectio/ Operasi Caesar), dan dipantau di rumah sakit. Wah, sudah disperate, bingung, takut, campur jadi
satu. Padahal sejak awal aku sudah pede bakalan lahir normal, IMD (Inisiasi
Menyusui Dini), dan menikmati setiap prosesku become the real mom.
Keputusanku dengan hubby, kita cari second
opinion. Kalau memang harus SC aku ingin di Tulungagung aja, dekat sama
mama di kota asalku. Akhirnya kita boyongan ke Tulungagung. Padahal sebelumnya
semua perlengkapan bayi sudah kita angkut ke Malang waktu lebaran.
Hal pertama yang kita lakukan begitu sampai di
Tulungagung, mencari rekomendasi dokter obgyn yang bagus. Akhirnya pilihan kita
jatuh ke dr. Fatchurrahman, SPOG. Antrean di tempat praktek dokter itu
panjangnya menggila. Aku baru dipanggil jam setengah sepuluh malem. Itupun masih
banyak yang antri sesudah aku.
Percakapanku dengan dr. fatchur:
(Sambil lihat di layar USG)
dr :
Bagus kok, nggak ada masalah. Mau ngintip kelaminnya gak?
Aku (A) :
iya dok (meskipun sebenernya sudah tahu)
dr :
cowok ini
A :
dari USG ini bisa dilihat air ketubannya keruh nggak dok?
dr : USG seperti ini nggak bisa buat
deteksi air ketuban keruh atau bening.
A :
(akhirnya aku cerita sebenarnya dan menyerahkan hasil lab terakhir ke dokter
itu)
Sambil mengamati hasil USG Dopler
dr :
loh, ini nggak ada masalah… hasilnya bagus gini kok
A :
ada kemungkinan saya SC nggak dok?
dr :
loh kenapa musti SC? Lha keadaan ibu
dan bayinya bagus gini kok
A :
kira-kira air ketuban saya ini cukup nggak dok sampai nanti proses lahiran?
dr :
cukup atau nggaknya bukan saya yang nentukan tapi Tuhan. Bisa cukup bisa juga
tidak. Gini lo, kalau ibu semangat untuk bisa melahirkan normal Insyaallah bisa normal. Ada tiga syarat
melahirkan normal. Pertama, panggul ibu cukup untuk keluar bayi, kedua ukuran
bayi tidak terlalu besar, dan yang ketiga semangat si ibu untuk bisa melahirkan
normal.
Saat itu juga aku merasa plong!
dr :
kalau sampai tanggal 18 September nanti (2012) belum ada kontraksi kesini lagi
ya?
Aku mengiyakan, berterimakasih, dan pergi dengan
lega. Tapi tetep… berdoa gak ada putusnya.
Mungkin ini adalah kemudahan yang diberikan
Tuhan buat keluarga kami. Tanggal 11 September malam, kandunganku sudah sering
kontraksi. Tanggal 12 September pukul 11 siang aku pergi ke bidan dekat rumah,
karena kontraksi yang semakin sering. Dicek sama bidannya ternyata sudah bukaan
satu. Alhamdulillah prosesnya cepat, dan jam tujuh malam Yitzhak Amirullah
Sahri lahir di dunia ini. Tidak ada operasi, berarti tidak ada pisau bedah,
tidak ada bius, dan aku langsung bisa memeluk Yitzhak begitu dia lahir. Subhanallah…
Informasi dari bidan yang membantu persalinanku,
air ketubanku ternyata masih sangat banyak. Bahkan setelah bayi sudah lahir, masih
banyak yang keluar. Menurut bidan, air ketubanku bersih, tidak bau, dan tidak
ada masalah apa-apa. Tudak berhenti aku mengucap syukur… Alhamdulillah ya
Allah, engkau telah memudahkan jalan kami.
Oh ya… sebelum aku masuk ke ruang bersalin aku
masih sempat merevisi tesis dan mengirimnya ke dosen penguji dan pembimbingku
lo… hahaha! Usaha lah ya, biar dua-duanya dapet… So nggak ada alesan utuk yang kuliahnya lama, ngerjain tesis gak
selese-selese.. emak-emak hamil aja bisa kok.. Semua pasti ada jalan kalau kita
punya kemauan kuat. Insyaallah… ^_^b.
![]() |
| Saat masih aktif kuliah sama temen sekelas Kebijakan Komunikasi (ki-ka: Tami, Ellen, Ronny, Hana) |
![]() |
| Sebelum kantor jurusan Komunikasi UGM dipugar.. sama Hana & Tami ^_^ |
Kalau ditanya tentang ramalan, mungkin saya merupakan satu diantara orang yang tidak mempercayai hal itu. Bukan bermaksud mematahkan anggapan bahwa ramalan suku Maya tentang bencana besar di tahun 2012 salah. Hanya karena alasan simple, saya beragama. Banyak kisruh yang ditimbulkan akibat film 2012 beberapa waktu lalu. Film ini mengisahkan terpenuhinya ramalan akan terjadinya bencana besar pada tanggal 21 Desember 2012, hari saat berakhirnya dunia atau hari kiamat. Film ini seolah-olah merangkaikan bencana-bencana yang banyak terjadi dan kita alami belakangan ini dengan akhir dunia : tsunami, gempa bumi, gunung meletus, pemanasan global, dll.
Suku Maya punya hitungan untuk melihat kapan akan terjadi bencana besar, yang diartikan banyak orang sebagai hari kiamat. Sementara agama (samawi) juga punya perspektif sendiri tentang hal ini. Lain lagi dengan media, yang bertugas sebagai pembentuk opini publik dengan mengangkat tema-tema kiamat dan menghubungkan dengan banyaknya bencana yang terjadi. Dalam kajian inter-cultural dan inter-religi, isu kiamat di media massa menjadi sangat menarik untuk dibahas.
William B. Gudykunst, dalam bukunya Handbook of International and Intercultural Communication (2002:187) punya bahasan menarik tentang Teori yang berfokus pada akomodasi atau adaptasi. Menurut Gudykunst, capaian teori ini berfokus pada bagaimana komunikator (baca: masyarakat) mengakomodasi atau mengadaptasi budaya diluar budaya aslinya. Ada satu teori tentang kajian antar budaya, yang akan kita coba untuk membingkai isu kisruh film 2012, sebelum kita bicarakan juga pada frame antar agama. Teori tersebut adalah teori akomodasi komunikasi yang merupakan gabungan konteks sosiohistoris dan hubungan antar kelompok budaya yang melakukan interaksi. Kalau kita hubungkan dengan melandanya isu ramalan suku Maya, impact media punya andil besar. Bagaimana ramalan suku Maya yang berada di semenanjung Yucatan - Amerika Tengah, berpengaruh besar pada opini masyarakat hampir di seluruh dunia?
Meminjam teori Gudikunts untuk melihat fenomena ini, berarti masyarakat dunia dengan berbagai latar belakang kepercayaan telah melakukan interaksi budaya, meskipun tidak secara langsung. Konteks sosiohistoris yang berbeda, seolah terjembatani dengan adanya media film yang mengusung tema ramalan suku Maya. Banyak masyarakat dunia mempertimbangkan informasi dari film tersebut. Meski kemungkinan besar kepercayaan mereka tidak mengenal adanya hari akhir (kiamat). Pada isu ini, bisa dikatakan bahwa konstruksi media dalam membentuk opini, sampai menyentuh ranah pribadi. Hak asasi manusia salah satunya adalah bebas untuk menentukan kepercayaan. Namun ternyata dampak media, bisa mempengaruhi hal itu.
Otak-atik Sabda Samawi
Pada pembahasan ini sebenarnya saya agak kesulitan mendapatkan literatur tentang agama samawi yang dibawa oleh Daud atau David. Dari beberapa artikel yang saya baca, akhirnya saya menemukan cerita tentang pengakuan seorang tokoh Zionis-Yahudi di Amerika Serikat bernama Rabi Yitzhak Qadduri. Dia sangat yakin jika asteroid besar itu akan menghantam wilayah Amerika Serikat, sebagaimana meteor raksasa yang pernah menghantam kawasan Arizona sehingga sampai saat ini meninggalkan cerukan yang sangat besar di sana, (dhymas.wordpress). Rabi Qadduri bahkan menyerukan agar kaum Yahudi Amerika pindah ke Ethiopia, satu diantara negeri di Afrika yang diyakininya akan selamat dari bencana tersebut.
Selain itu ada beragam tanggapan tentang film, ramalan dan fenomena adanya hari akhir: dari panik, takut, cuek sampai bertanya-tanya : “apakah akhir zaman sudah mendekat?”. Menanggapi situasi kepanikan seperti ini, dikisahkan dalam Injil (Luk 21:5-19) Yesus menjawab pertanyaan para muridnya: “Guru, bilamanakah itu akan terjadi? Dan apakah tandanya kalau itu akan terjadi?” (Luk 21:7) Yesus justru mengingatkan para murid : “Waspadalah, jangan sampai kamu disesatkan. Sebab banyak orang akan datang dengan memakai nama-Ku dan berkata ‘Akulah Dia’ atau ‘Saatnya sudah dekat’. Janganlah kamu mengikuti mereka.”
Sementara dalam agama samawi lain, mempercayai ramalan merupakan perbuatan syirik atau perbuatan menyekutukan Tuhan. Dalam Al-Qur’an Allah SWT berfirman: “Manusia bertanya kepadamu tentang hari berbangkit. Katakanlah: "Sesungguhnya pengetahuan tentang hari berbangkit itu hanya di sisi Allah". Dan tahukah kamu (hai Muhammad), boleh jadi hari berbangkit itu sudah dekat waktunya.” (QS. Al Ahzab: 63). Agama ini mempercayai adanya hari akhir yang ditandai dengan dahsyatnya bencana di bumi.
Dari ulasan diatas, konstruksi media yang menyebabkan banyak kisruh isu hari akhir di tahun 2012 membuat saya berbelok berfikir untuk kembali melihat kepercayaan. Menurut saya, saat suku Maya percaya dengan ramalannya, maka masyarakat dengan sosiokultur yang berbeda di belahan dunia lain juga memiliki perhitungan sendiri. Bisa dari ramalan atau kepercayaan. Melihat isu ini, saya hanya ingin mengembalikan bahwa setiap peradaban punya sejarah dan media punya kekuatan untuk membentuk opini dan mengkonstruksi. (el)
Film sebagai media komunikasi merupakan cermin dari realitas sosial. Peristiwa yang terjadi dalam masyarakat bisa menjadi pesan sosial yang terkandung dalam sebuah film. Meski pesan yang disampaikan bukan hanya pesan “terang”, namun juga sisi gelap kehidupan. Banyak hal yang bisa dipelajari dan mengambil inspirasi dari cerita sebuah film. Menurut Alfred Hitchcock (dalam Danesi,2002:107), meresepsi pesan dari sebuah film tidak hanya soal memahami pembicaraan secara dialogis; namun lebih dari itu. Stimuli yang terjadi pada setiap orang, akan menimbulkan persepsi yang berbeda. Hal itu akan berpengaruh pada makna pesan yang akan sampai pada setiap audiens film (penerima pesan).
Pada dasarnya, masyarakat memiliki sebuah agenda (baca: agenda masyarakat); yaitu persoalan dalam masyarakat yang menyangkut kepentingan bersama dan segera perlu diselesaikan. Saat masyarakat bergejolak, isu ini akan ditangkap oleh media dan akan menjadi agenda media – atau hal yang dianggap penting untuk diblow-up media. Berbagai media massa akan menjadikan agenda masyarakat sebagai objek. Saat posisi seperti ini terjadi, hal yang tidak bisa dipungkiri adalah adanya agenda kebijakan; yaitu action dari stakeholder atau pihak yang berkepentingan untuk segera menyelesaikan gejolak persoalan dalam masyarakat. Media massa cetak dan elektronik seperti koran, tabloid, majalah, televisi, radio, bahkan portal media (internet) tidak akan ketinggalan menangkap hard news pada kondisi seperti ini. Hal serupa sebenarnya juga terjadi pada film, dimana film juga meresepsi isu dalam masyarakat yang akhirnya diangkat menjadi sebuah karya film. Namun sifat film yang delay dan memiliki karakter kuat pada setiap peran dalam cerita, membawa film pada package yang berbeda.
Film tidak saja menjadi hiburan yang penting tapi juga memiliki pesan sosial. Meskipun saat ini masih banyak film yang hanya mengandalkan adegan berunsur seksualitas, namun tidak jarang pula film Indonesia yang berkualitas dan memiliki pesan sosial tinggi. Produksi film Indonesia mengalami pasang surut dari tahun ke tahun.
Sejak krisis ekonomi pada akhir tahun 1997 dan awal 1998, produksi film Indonesia mengalami penurunan. Namun sejak tahun 2002 industri film kembali bergeliat. Mulai tahun 2002 jumlah produksi film naik menjadi 9 buah atau naik 5 buah dari tahun sebelumnya. Angka produksi tersebut terus naik hingga pada tahun 2005 dan 2006 menjadi 33 buah. Kemudian pada tahun 2007 dan 2008 masih mengalami kenaikan masing-masing 53 buah dan 75 buah, (Data dan Informasi Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olah Raga Bappenas, Depbudpar, 2009).
Film Indonesia mulai hidup lagi dengan adanya film Ada Apa Dengan Cinta. Dilanjutkan dengan Petualangan Sherina yang juga membuat masyarakat kembali antusias untuk menonton film Indonesia. Seiring perkembangan film Indonesia, seharusnya kebijakan untuk penambahan waktu eksibisi pada bioskop juga ditambah.
Ada hal krusial yang perlu kita cermati bersama. Sejak film pertama diproduksi di bumi pertiwi tahun 1926 – 19 tahun sebelum Indonesia merdeka – hingga tahun 2006 Indonesia tidak pernah memiliki industri film, (Effendy,2008:1). Hal ini karena sejak dulu Indonesia belum memiliki rantai industri film yang saling bersinergi. Diantaranya rantai produksi, rantai distribusi, dan rantai eksibisi.
Rantai eksibisi film meliputi semua pekerjaan, mulai dari pemilihan ide cerita hingga film selesai dibuat dan siap didistribusikan. Termasuk dalam rantai produksi adalah semua kru, perusahaan pembiayaan/ investor, rumah produksi, perusahaan penyewaan alat, dan post-production house. Rantai distribusi merupakan semua pekerjaan penyebarluasan film untuk dinikmati penonton di bioskop. Dalam rantai ini, perusahaan distribusi film atau distributor memainkan peran utama; menyalurkan film dari produsen ke jaringan bioskop, televisi, dan home video (DVD dan VCD). Sementara rantai eksibisi adalah semua pekerjaan menayangkan film di bioskop oleh jaringan bioskop.
Menjamurnya home video (VCD/DVD), rental VCD/DVD, mini teater, dan maraknya VCD/DVD bajakan (yang saat ini telah canggih dengan download via Bule Ray) dan bahkan tanpa sensor membuat usaha bioskop daerah mengalami penurunan omset. Jika harus dirumuskan persoalan yang paling mendesak dalam perfilman Indonesia adalah masih rendahnya tingkat produksi film cerita untuk bioskop. Sejak tahun 1993 jumlah produki film cerita mengalami terjun bebas hingga ke titik terendah pada 2000 hanya sekitar 3 judul per tahun, (Kurnia, Irawanto, Rahayu, 2004:11). Hal ini juga yang mengakibatkan banyak bioskop daerah akhirnya gulung tikar karena tidak ada distribusi film untuk diputar. Masih menurut Kurnia, Irawanto, dan Rahayu (2004:11), setidaknya ada tiga simpul masalah produksi film yang menyebabkan matinya bioskop daerah; dintaranya (1) sumberdaya manusia, (2) regulasi dalam produksi, (3) teknologi dalam perfilman.
Pada rentang waktu 1960-an sampai awal 1980-an, pemerintah sebenarnya telah membuat sejumlah kebijakan untuk perfilman nasional. Namun sampai undang-undang Perfilman No.33/2009 disahkan, kondisi perfilman nasional belum juga membaik.
Distribusi perfilman di Indonesia merujuk pada realitas bisnis yang menguasai tiga unsur dalam mata rantai bisnis film yang meliputi pengadaan film impor, distribusi atau pengedaran film dan eksibisinya di bioskop dimana praktek bisnisnya mengacu pada konsep integrasi vertikal, (Kurnia, Irawanto, Rahayu, 2004:95). Saat ini kelompok bioskop 21 Cineplex merupakan pelaku dominan distribusi film di Indonesia, terutama film impor. Faktanya, pengusaha bioskop di Indonesia harus menjaga keseimbangan komposisi film lokal dan impor yang diputar untuk mendapat penghasilan yang layak. Para produser film lokal pun hanya sedikit yang memutarkan filmnya di luar jaringan bioskop 21 Cineplex karena pertimbangan bioskop lain tidak akan banyak penonton. Selain maraknya VCD/DVD, pola distribusi film turut mempengaruhi hancurnya bioskop daerah di Indonesia. (eln)
Pada dasarnya, masyarakat memiliki sebuah agenda (baca: agenda masyarakat); yaitu persoalan dalam masyarakat yang menyangkut kepentingan bersama dan segera perlu diselesaikan. Saat masyarakat bergejolak, isu ini akan ditangkap oleh media dan akan menjadi agenda media – atau hal yang dianggap penting untuk diblow-up media. Berbagai media massa akan menjadikan agenda masyarakat sebagai objek. Saat posisi seperti ini terjadi, hal yang tidak bisa dipungkiri adalah adanya agenda kebijakan; yaitu action dari stakeholder atau pihak yang berkepentingan untuk segera menyelesaikan gejolak persoalan dalam masyarakat. Media massa cetak dan elektronik seperti koran, tabloid, majalah, televisi, radio, bahkan portal media (internet) tidak akan ketinggalan menangkap hard news pada kondisi seperti ini. Hal serupa sebenarnya juga terjadi pada film, dimana film juga meresepsi isu dalam masyarakat yang akhirnya diangkat menjadi sebuah karya film. Namun sifat film yang delay dan memiliki karakter kuat pada setiap peran dalam cerita, membawa film pada package yang berbeda.
Film tidak saja menjadi hiburan yang penting tapi juga memiliki pesan sosial. Meskipun saat ini masih banyak film yang hanya mengandalkan adegan berunsur seksualitas, namun tidak jarang pula film Indonesia yang berkualitas dan memiliki pesan sosial tinggi. Produksi film Indonesia mengalami pasang surut dari tahun ke tahun.
Sejak krisis ekonomi pada akhir tahun 1997 dan awal 1998, produksi film Indonesia mengalami penurunan. Namun sejak tahun 2002 industri film kembali bergeliat. Mulai tahun 2002 jumlah produksi film naik menjadi 9 buah atau naik 5 buah dari tahun sebelumnya. Angka produksi tersebut terus naik hingga pada tahun 2005 dan 2006 menjadi 33 buah. Kemudian pada tahun 2007 dan 2008 masih mengalami kenaikan masing-masing 53 buah dan 75 buah, (Data dan Informasi Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olah Raga Bappenas, Depbudpar, 2009).
Film Indonesia mulai hidup lagi dengan adanya film Ada Apa Dengan Cinta. Dilanjutkan dengan Petualangan Sherina yang juga membuat masyarakat kembali antusias untuk menonton film Indonesia. Seiring perkembangan film Indonesia, seharusnya kebijakan untuk penambahan waktu eksibisi pada bioskop juga ditambah.
Ada hal krusial yang perlu kita cermati bersama. Sejak film pertama diproduksi di bumi pertiwi tahun 1926 – 19 tahun sebelum Indonesia merdeka – hingga tahun 2006 Indonesia tidak pernah memiliki industri film, (Effendy,2008:1). Hal ini karena sejak dulu Indonesia belum memiliki rantai industri film yang saling bersinergi. Diantaranya rantai produksi, rantai distribusi, dan rantai eksibisi.
Rantai eksibisi film meliputi semua pekerjaan, mulai dari pemilihan ide cerita hingga film selesai dibuat dan siap didistribusikan. Termasuk dalam rantai produksi adalah semua kru, perusahaan pembiayaan/ investor, rumah produksi, perusahaan penyewaan alat, dan post-production house. Rantai distribusi merupakan semua pekerjaan penyebarluasan film untuk dinikmati penonton di bioskop. Dalam rantai ini, perusahaan distribusi film atau distributor memainkan peran utama; menyalurkan film dari produsen ke jaringan bioskop, televisi, dan home video (DVD dan VCD). Sementara rantai eksibisi adalah semua pekerjaan menayangkan film di bioskop oleh jaringan bioskop.
Menjamurnya home video (VCD/DVD), rental VCD/DVD, mini teater, dan maraknya VCD/DVD bajakan (yang saat ini telah canggih dengan download via Bule Ray) dan bahkan tanpa sensor membuat usaha bioskop daerah mengalami penurunan omset. Jika harus dirumuskan persoalan yang paling mendesak dalam perfilman Indonesia adalah masih rendahnya tingkat produksi film cerita untuk bioskop. Sejak tahun 1993 jumlah produki film cerita mengalami terjun bebas hingga ke titik terendah pada 2000 hanya sekitar 3 judul per tahun, (Kurnia, Irawanto, Rahayu, 2004:11). Hal ini juga yang mengakibatkan banyak bioskop daerah akhirnya gulung tikar karena tidak ada distribusi film untuk diputar. Masih menurut Kurnia, Irawanto, dan Rahayu (2004:11), setidaknya ada tiga simpul masalah produksi film yang menyebabkan matinya bioskop daerah; dintaranya (1) sumberdaya manusia, (2) regulasi dalam produksi, (3) teknologi dalam perfilman.
Pada rentang waktu 1960-an sampai awal 1980-an, pemerintah sebenarnya telah membuat sejumlah kebijakan untuk perfilman nasional. Namun sampai undang-undang Perfilman No.33/2009 disahkan, kondisi perfilman nasional belum juga membaik.
Distribusi perfilman di Indonesia merujuk pada realitas bisnis yang menguasai tiga unsur dalam mata rantai bisnis film yang meliputi pengadaan film impor, distribusi atau pengedaran film dan eksibisinya di bioskop dimana praktek bisnisnya mengacu pada konsep integrasi vertikal, (Kurnia, Irawanto, Rahayu, 2004:95). Saat ini kelompok bioskop 21 Cineplex merupakan pelaku dominan distribusi film di Indonesia, terutama film impor. Faktanya, pengusaha bioskop di Indonesia harus menjaga keseimbangan komposisi film lokal dan impor yang diputar untuk mendapat penghasilan yang layak. Para produser film lokal pun hanya sedikit yang memutarkan filmnya di luar jaringan bioskop 21 Cineplex karena pertimbangan bioskop lain tidak akan banyak penonton. Selain maraknya VCD/DVD, pola distribusi film turut mempengaruhi hancurnya bioskop daerah di Indonesia. (eln)
Langganan:
Postingan
(
Atom
)











