- Memberi kepercayaan. Kepada super daddy dan super boy, aku harus lebih bisa terbuka, mengkomunikasikan segala hal, dan memiliki manajemen waktu yang baik antara kerja dan di rumah.
- Menjaga sinyal BANGGA pada dua Super Hero di rumah.
- Tidak membanding-bangdingkan para Super Hero.
- Berfikir sebelum bicara.
- Multitasking (harus bisa jadi istri, ibu, sahabat, dan manajer untuk para Super Hero).
- Mencari metode belajar sambil bermain yang lebih menyenangkan untuk Super Boy.
- Membiarkan Super Boy berekspresi. NGGAK BOLEH gampang marah kalo dia jatuhin barang, berantakin buku, berantakin mainan (padahal baru diberesin).
In
Resolusi Super Mom dan Tumpeng ‘Darurat Cinta’ (My 3rd Wedding Anniversary)
Posted on Jumat, 17 Januari 2014
Nggak terasa, pernikahanku
dengan ‘Super Daddy’ sudah di angka 3 tahun. Menghasilkan seorang ‘Super Boy’ yang
super lucu dan super banyol (hehe!). Tepat di tiga tahun pernikahanku ini, aku
harus punya resolusi. Ini nih bocorannya:
Semoga semua itu bisa tercapai,
Amin!. Meskipun kelihatannya banyak, tapi antara satu point dengan yang lain
saling berkesinambungan kok (semoga, dan harus berusaha bisa!).
Oya cerita untuk perayaan
hari ini ^_^.
Sejak awal bulan aku berfikir,
kalau hari ulang tahun pernikahanku ini nggak boleh terlewat begitu saja. Googling,
ngintip facebook teman kiri kanan, sampai survey kue tart sudah ku lakukan. Semua
demi hari ini, yang harus spesial. Tapi dari semua upaya yang ku lakukan, kok
ya, masih ada yang kurang sreg gitu
rasanya. Tiga hari yang lalu, aku berfikir untuk pesan kue saja di tempat
langganan. Tapi pas mau belok ke tempat pemesanan kue, aku urungkan. Semua karena
super mom ingin sesuatu yang beda dan sedikit sempurna (hahaha, bahasanya!).
Kemarin lusa sepulang kerja
(sambil mikir waktu perjalanan pulang), aku putuskan untuk membuat nasi tumpeng
kuning lengkap dengan lauk pauknya. Sebelum sampai rumah, aku mampir dulu ke
penjual sayur langganan untuk pesan bahan-bahan membuat nasi kuning dan printilannya.
Semalam tepat pukul 00.00,
aku bangun dari ‘pulau kapuk’ dan mulai memasak. Dengan cinta, dalam hati aku
hanya berdoa semoga semua masakan ini sukses – bisa dimakan/ nggak gagal. Secara
aku belum pernah punya pengalaman masak tumpeng dengan kroni-kroninya. Well inilah
tahap-tahap perjuanganku membangun nasi tumpeng dalam semalam (halah! ^_^).
Step 1 : membuat tahu bacem (sukses, meskipun agak
gosong di panci)
Step 2 : membuat bakwan jagung (sukses)
Step 3 : membuat nasi kuning (terlalu lembek dan
kurang gurih. Ya tapi masih bisa dimakan lah ^_^)
Step 4 : membuat kering tempe (sukses besar)
Step 5 : membuat ayam bumbu rujak (pakai bumbu jadi
khusus menu ini, ^_^)
Step 6 : membuat mie goreng (bumbunya kurang berasa)
Step 7 : membuat dadar telur (sukses dunk!)
Sambal bajak dan abon, aku
beli jadi. Nggak sanggup jadi ‘Bandung Bondowoso’ tanpa bala tentara,
menyelesaikan gunungan tumpeng dalam semalam, hehehe!.
Setelah semua lauk dan nasi
kuning ready, tinggal menata. Oya, aku
bikin tumpeng ini dengan cetakan yang dibikin dengan kertas karton karena nggak
punya cetakan tumpeng (memanfaatkan apa yang ada alias ngirit, hehe!). Tepat pukul
03.30, tumpeng ‘DARURAT CINTA’ sudah jadi… (bahagia dan puas rasanya). Pukul 03.45,
selesai bersihin dapur dan bertepatan dengan murotal yang terdengar sebelum
adzan subuh, saya bangunkan super daddy. “Happy Wedding Anniversary…”, ku
tuntun dia keluar kamar dan sudah menunggu tumpeng mungil di ruang tamu. “Terimakasih”
kata super dady. Kecupan juga mendarat di pipiku – ough, bahagianya. Ya inilah
perjuangan Super Mom, untuk peringatan ulang tahun pernikahan yang HARUS spesial.
Meski dari segi rasa, mungkin masih jauh berkilo-kilo meter dari enak, tapi aku
puas bisa memberikan sesuatu yang ‘berkesan’ untuk yang tercinta.
“HAPPY
ANNIVERSARY 3rd, HUBBY”.
![]() |
| Foto diambil dari: http://toysinthedryer.com/falling-into-the-super-mom-trap/ |
Menjadi ibu itu berarti bukan single lagi (yes, it certainly!). Menjadi ibu berarti memiliki pasangan hidup bernama
suami, dan memiliki malaikat kecil bernama anak. Nah dari sini, semua pelajaran
sesungguhnya dimulai. Selama kita sekolah, dari TK sampai kuliah pelajaran
menjadi ibu tidak pernah ada. Saat kuliah dulu, kita banyak belajar tentang
realitas sosial. Bagiku sekarang, inilah realitas sosial yang sebenarnya; saat
kita secara alami menjadi manajer rumah tangga yang disebut IBU. Ough, previously unimaginable! Ya,
tapi inilah hidup dan realita yang harus di hadapi setiap perempuan. Termasuk aku.
Menjadi ibu, tanpa bantuan ART (Asisten Rumah Tangga),
merupakan hal yang sangat luar biasa bagiku. Keluargaku memang bukan keluarga
kaya, tapi saat masih kecil keseharianku diasuh oleh ‘mbak’, meskipun ibuku
juga di rumah. Jadi akhirnya aku menganggap kenyataan ini sebagai suatu yang lumrah.
Aku selalu berfikir, jika nanti punya keluarga, ya sepaket sama ART yang bisa
jaga anak sekaligus bersih-bersih rumah. Tapi ternyata, kenyataan tak seindah
harapan (halah!) ^_^. Saat ini, aku menjadi Super Mom (Working Mom, and do all my own homework!).
Hebat kan? Setidaknya itu yang selalu ku katakan pada diriku sendiri ^_^.
Well,
pelajaran memang bisa datang dari mana saja dan dari siapa saja. Aku belajar
menjadi istri dan ibu mulai dari NOL!. Semua masukan ya hanya ku peroleh dari
suamiku. Dia memprofilkan ibunya, untuk bisa ku ekstrak dengan caraku menjalani
profesi baru ini. Perasaan campur aduk, nangis, capek, semua sudah ku lalui,
dan hingga saat ini-pun masih sering terjadi ‘drama’ demikian. Hmm… want you to know Super Mom daily activity?
This is it!
04.30 – Sholat Subuh
05.00 – Belanja Sayur
05.20 – Masak
06.00 – Mandikan Super
Boy
06.30 – Nyuapin Super
Boy
07.00 – Beresin dapur,
nyiapin bekal ke kantor
07.15 – Mandi
07.30 – Siap-siap ke Kantor
07.40 – Berangkat ke
Kantor
That’s
my activities every
single day, except Sunday (Really Sun-Day!).
Jarak antara rumah ke kantorku
hanya sekitar 3km, jadi setiap istirahat siang pukul 12.00 – 13.00 aku pulang
untuk breastfeeding. Pulang kantor
pukul 15.00, sesampainya di rumah, langsung menyiapkan mandi sore Super Boy,
nyuapin (makan sore), dan setelah itu baru giliranku membersihkan diri. Itulah kegiatan
keseharian Super Mom. Belum lagi kalau setrikaan numpuk, OMG, rasanya badan ini
mo lepas dari tulang. Itulah sebabnya, kenapa pandanganku pada Working mom tanpa ART itu kereeennn
abiiisss….!!!.
![]() |
| Foto diambil dari: http://www.household-management-101.com/laundry-routines.html |
![]() |
| Gambar diambil dari: http://www.digitalmomblog.com/life-of-a-working-mom/ |
Senin 2 Desember lalu, aku mulai bekerja lagi. Setelah
setahun lebih fokus mengurus Yitzhak saja. Sebelum hari awal kerja, drama
terjadi. Seperti biasa. Perbedaan pandangan dengan ayah. Menurut ayah, kalau misal
dia ada kerjaan ke luar kota dan harus ninggalin Yitzhak, gak ada istilah
dititipkan ke day care. Padahal
kesepakatan sebelumnya, day care adalah solusi kalau kita bentrok jadwal. Oya,
aku jelasin dulu. Hari-hari aku bekerja, Ytzhak dirumah berdua dengan ayah.
Tidak ada ART, karena pertimbangan ingin pembangunan karakter dan mengikuti tumbuh
kembang Yitzhak sesuai dengan misi keluarga kita. Bukan orang lain. Orang tuaku
maupun orang tua suamiku tinggal jauh di luar kota. Jadi kita betul-betul harus
mandiri karena tidak ada keluarga atau orang yang bisa dipercaya untuk menjaga
Yitzhak selama kita bekerja. Pekerjaan suamiku sebagai fotografer dan editor
foto, membuatnya leluasa untuk meng-handle
pekerjaan dari rumah. Sementara aku punya waktu bekerja di luar rumah selama week day.
Aku yakin kebingungan seperti ini bukan aku saja yang
mengalami. Hampir setiap orang tua pasti pernah mengalami persoalan demikian. Ingin
mengasuh anak sendiri, supaya nilai-nilai dalam keluarga tetap terjaga. It means, anak faham kebiasaan yang
ditanamkan keluarga, disamping orang tua tetap bekerja. Semoga dengan semakin
dewasanya Yitzhak, ayah bisa kembali bekerja seperti biasa, dan kita menemukan
model/ pola asuh yang tidak akan mengubah karakter Yitzhak kedepannya. We love you 'super boy'!.
![]() |
| Gambar diambil dari: http://www.olegun.com/about-that-atlantic-article-why-working-from-home-isnt-the-answer-for-working-moms/ |
Sudah beberapa hari yang lalu Yitzhak ulang tahun pertama. Tapi aku lupa upload sertifikat lulus S2 ASI nya. Alhamdulillah sampai sekarangpun dia masih ASI. Tentunya sesudah satu tahun, boleh minum tambahan susu UHT hehehe!. Diet MPASI rumahan tanpa gula garam juga lulus sampai satu tahun ini... Selamat ya nak, semoga nanti bisa sampai lulus S3... Amien!
Setidaknya, setiap orang pasti punya target dalam hidup. Gak terkecuali mom seperti aku yang masih dinas dirumah aja... Ijazah S2 juga masih tentram dalam lemari, belum tersentuh. Ya mungkin ini saatnya untuk bangkit lagi... untuk para moms, ayo kita berkarya.... ^_^b
Nggak kerasa, anakku sudah satu tahun tanggal 12 kemarin. Kita sekeluarga merayakan kecil-kecilan, meski dia belum ngerti tiup lilin dan kue tart. Paling tidak saat dewasa nanti, dia tahu betapa sayangnya kami padanya, saat melihat foto ulang tahun pertamanya. Selamat Ulang Tahun sayang...Semoga kelak kau jadi anak sholeh, berilmu, berbakti pada kami orangtua mu, dan berguna bagi agama dan negara, Amien!
![]() |
| Kue ulang tahun ke-1Yitzhak |
![]() |
| rewelnya saat mau mulai makan |
Sebenarnya ini
bukan kali pertama Yitzhak terserang flu. Tapi entah kenapa di episode flu kali
ini, kesabaranku sedikit diuji. Usia Yitzhak hampir satu tahun, tapi gigi
geliginya belum nongol satu pun!. Meski begitu, dia sudah ku beri menu nasi lembek
(bukan diblender lagi). Sementara sayur dan daging-dagingan ku potong
kecil-kecil. Tujuannya untuk merangsang pertumbuhan gigi (itu juga kata DSAnya),
hehe. Saat sehat, dia makan pelan banget. Jadi kita musti sabar nunggu dia
ngunyah.
Well, kembali
ke soal flunya Yitzhak. Dalam kondisi seperti ini, dia mungkin ngerasa badannya
gak enak. Mana ingus juga keluar terus, suaranya juga sengau. Dia jadi gak bisa
nelan makanan seperti biasa. Emaknya yang nyuapin jadi sebel, masa harus
nungguin anak ngemut makanan. Kapan selesainya, pikirku.
Beberapa waktu
lalu, aku sempat browsing gitu soal parenting. DSA-nya bilang, kalau ngasih
MPASI ke anak diatas 7 bulan tekstur makanannya harus yang paling kasar yang
bisa dikunyah anak. Aku sebagai ibu muda, otomatis juga menerapkan hal itu. Dalam
artikel juga dikatakan, kita gak boleh mundur langkah. Misalnya udah pakai nasi
tim. Anak bisa mengunyah, tapi hanya makan sedikit. Lebih banyak makan kalau makanannya
diblender dulu. Hal ini yang perlu diperhatikan. Kata tuh DSA, anak akan
belajar sedikit demi sedikit setiap makan, jadi kita nggak boleh nurunin
tekstur dari nasi tim ke nasi blender (nasi tim saring).
Membaca teori
itu sungguh indah. Tapi menerapkannya? Belum tentu. Terlebih saat anak dalam
kondisi sakit. Lha kita aja, kalau sakit kadang pinginnya juga makan bubur atau
yang gampang ditelan karena mulut pahit. Ok, kembali ke drama makan sorenya
Yitzhak. Dia bener-bener gak bisa nelan nasi dan daging yang ku suapin. Akhirnya
(dengan sedikit geregetan), ku blender aja semua makanannya.
![]() |
| bubur nasi daging (ekstra bawang putih) |
Setelah jadi
bubur nasi daging gitu dia baru lahap makan. Oalah nak, bunda sampe stress rasanya
mikir biar kamu banyak makan. Saat Yitzhak flu, aku nggak pernah kasih obat
kimia. Obatnya cuma ASI dan makanan sehat (biasanya sup atau sayurnya ku beri
ekstra bawang putih). Kalau sudah gitu
paling lama seminggu insyaallah sembuh. Biarkan anak membentuk antibodinya sendiri
dari asupan ASI yang dia minum. Itulah keutamaan ASI. Sepertinya aku memang
sudah kecanduan ASI. Yitzhak sakit apapun, obatnya ya cuma ASI. Mau flu seberat
apapun atau panas dibawah 39 derajat hanya ASI obatnya. Selama ini aku mencoba
menerapkan gaya hidup sehat aja ke Yitzhak. get well soon ya sayang,
![]() |
| akirnya makan juga, setelah nasi diblender |
![]() |
| happy ending, sampai minumnya juga habis |
Langganan:
Postingan
(
Atom
)













